KEBENARAN
MIKHA AGUS WIDIYANTO, M.PD.
18 September 2014
•
Dalam
kehidupan sehari-hari sering kita mendengarkan ungkapan: “meskipun kebenaran
itu mahal harganya saya akan tetap menegakkannya”. “Saya rela mati untuk
membela kebenaran”
•
Pernyataan
tersebut menyiratkan bahwa kebenaran itu sangatlah penting dan berharga bagi
kita.
•
Tetapi
apakah sungguh ada kebenaran itu?
•
Kalo
ada, apakah sesungguhnya kebenaran itu?
•
Apakah
kebenaran itu bersifat subyektif atau obyektif dan universal?
•
Dapatkah
manusia mencapai kebenaran yang obyektif dan universal?
•
Bagaimana
kita dapat tahu bahwa sesuatu itu merupakan kebenaran?
Apakah kebenaran
itu?
•
Untuk
menilai sifat atau kualitas dari suatu proposisi (pernyataan) atau makna/isi
pernyataan digunakan istilah benar – salah
•
Pengetahuan
bisa dinilai benar atau salah, karena pengetahuan pada dasarnya merupakan
gabungan dan perpaduan dari sistim pernyataan.
•
Konsep
tidak dapat dinilai benar atau salah, betul atau keliru. Konsep hanya bisa dinilai jelas dan terpilah atau kabur,
memadai atau tidak memadai.
•
Persepsi
tidak dapat disebut benar atau salah. Yang bisa disebut benar atau salah adalah
isi pernyataan tentang apa yang dipersepsikannya. Yang bisa benar atau salah
adalah orang yang mepersepsikannya.
Pengertian
Kebenaran
•
Kebenaran
sebagai sifat pengetahuan disebut kebenaran epistemologis.
•
Lawan
dari kebenaran adalah salah.
•
Secara
umum kebenaran biasanya dimengerti sebagai kesesuaian antara apa yang dipirkan
dan atau dinyatakan dengan kenyataan yang sesungguhnya.
•
Suatu
pengetahuan atau pernyataan di sebut benar jika sesuai dengan kenyataan.
•
Dengan
demikian, kenyataan menjadi suatu ukuran penentu penilaian.
•
Kata
Yunani untuk kebenaran adalah alètheia.
•
Pengertian
Plato tentang kebenaran secara etimologi bahwa alètheia berarti
“ketaktersembunyiaan adanya” atau “ketersingkapan adanya”
•
Menurut
Plato bahwa selama kita terikat pada “yang ada” dan tidak masuk pada “adanya
dari yang ada”, kita belum berjumpa dengan kebenaran, karena “adanya” itu masih
tersembunyi.
•
Baru
ketika selubung yang menutupi itu “semua yang ada” itu disingkapkan sehingga
terlihat oleh mata batin kita, maka terbukalah “adanya” atau bertemulah kita
dengan kebenaran.
•
Kebenaran
dalam konsep Plato dimengerti sebagai terletak pada obyek yang diketahui, atau
pada apa yang dikejar untuk diketahui.
•
Menurut
Plato bahwa kebenaran sebagai ketidaktersembunyiaan adanya itu tidak dapat
dicapai manusia selama hidupnya di dunia ini.
•
Berbeda
dengan Plato, Aristoteles dalam memahami kebenaran lebih memusatkan perhatian
pada kualitas pernyataan yang dibuat oleh subyek penahu ketika dirinya
menegaskan suatu putusan entah secara afirmatif atau negatif.
•
Ada
tidaknya kebenaran dalam putusan yang bersangkutan bersifat afirmatif
(menegaskan atau menguatkan) (S itu P) atau negatif (S itu bukan P) itu
tergantung pada apakah putusan yang bersangkutan sebagai pengetahuan dalam diri
subyek penahu itu sesuai atau tidak sesuai dengan kenyataan.
•
Dalam
hal ini kebenaran dimengerti sebagai kesesuaian antara sunyek si pehanu dengan
obyek yang diketahui.
•
Menurut
kaum Positivisme
Logis bahwa kebenaran
dibedakan menjadi dua, yaitu kebenaran faktual dan kebenaran nalar.
•
Kebenaran
faktual adalah
kebenaran tentang ada tidaknya secara faktual di dunia nyata sebagaimana
dialami manusia (yang biasanya diukur dengan dapat atau tidaknya secara
inderawi)
•
Misalnya
bumi bulat sebagai pernyataan yang memiliki kebenaran faktual atau tidak, pada
prinsipnya harus bisa diuji kebenarannya berdasarkan pengamatan inderawi.
•
Kebenaran
faktual sebagai kebenaran yang menambah khazanah pengetahuan kita tentang alam
semesta sejauh dapat kita alami secara inderawi.
•
Kebenaran
faktual kepastiannya tidak pernah mutlak dan tetap diterima sebagai benar
sejauh belum ada alternatif pandangan lain yang menggugurkannya.
•
Kebenaran
nalar adalah
kebenaran yang bersifat tautologis (pengulangan gagasan) dan tidak menambah
pengetahuan baru mengenai dunia, tetapi dapat menjadi sarana yang berdaya guna
untuk memperoleh pengatahuan yang benar tentang dunia ini.
•
Kebenaran
nalar dapat membantu untuk memperoleh kebenaran faktual.
•
Kebenaran
nalar sebagai kebenaran yang terdapat dalam logika dan matematika. Kebenarannya
di dasarkan pada penyimpulan deduktif,
•
Kebenaran
nalar berbeda dengan kebenaran faktual yang bersifat nisbi (hanya terlihat
ketika dibandingkan dengan yang lain, tidak mutlak dan relatif) dan mentak
(mungkin, belum pasti), sedangkan kebenaran nalar bersifat mutlak dan
tidak niscaya (tentu, pasti).
•
Selain
kedua jenis
kebenaran yang diungkapkan oleh kaum Positivis Logis, mengikuti Thomas Aquinas,
maka kebenaran dibedakan menjadi dua, yaitu kebenaran Ontologis (Veritas
Ontologica) dan kebenaran Logis (Veritas Logica).
•
Kebenaran
ontologis merupakan
kebenaran yang terdapat dalam kenyataan, entah spritual atau material, yang
meskipun ada kemungkinan untuk diketahui.
•
Misalnya: kebenaran tentang adanya segala
sesuatu sesuai hakikatnya, kebenaran tentang adanya Tuhan, kebenaran tentang
keabdian jiwa.
•
Kebenaran
logis sebagai
kebenaran yang terdapat dalam akal budi manusia si penahu, dalam bentuk adanya
kesesuaian antara akal budi dengan kenyataan.
Kedudukan
Kebenaran
•
Kedudukan
kebenaran pengetahuan dalam pandangan Platonis lebih diletakkan dalam
obyek atau kenyataan yang diketahui. sedangkan Aristotelian dalam subyek yang mengetahui.
•
Kedudukan
kebenaran dalam tradisi Aristotelian lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
•
Dalam
kenyataan hidup sehari-hari pernyataan-pernyataan yang dianggap benar ,
walaupun memang menjadi tempat kedudukan kebenaran, namun hal itu hanya terjadi
apabila kenyataan Kaum Eksistensial menyatakan bahwa kebenaran
(kebenaran eksistensial) merupakan apa yang secara pribadi berharga bagi subyek
konkrit yang bersangkutan dan pantas untuk dipegang teguh dengan penuh
kesetiaan.
•
Kalau
kebenaran ilmiah bersifat eksternal terhadap subyek, maka kebenaran
eksistensial bersifat internal terhadap subyek.
•
Dalam
arti si subyek secara langsung terlibat dalam perkara yang dinilai atau dipertaruhkan.
•
yang
sesungguhnya tersingkap di dalamnya.
•
Kebenaran
pada akhirnya berada dalam relasi antara subyek yang mengetahui dan obyek yang
diketahui.
•
Bagi
manusia sebagai mahkluk yang terbatas, kebenaran sebagai ketersingkapnya
kenyataan sebagaimana adanya. Dan, itu ternyata tidak dapat disaksikan secara
sekaligus dan menyeluruh.
Kesahihan
dan Kekeliruan
•
Kekeliruan
perlu dibedakan dengan kesahihan.
•
Pada
umunya kekeliruan berati menerima sebagai benar apa yang dinyatakan salah atau
menyangkal apa yang senyatanya benar.
•
Kekeliruan
adalah segala sesuatu yang menyangkut tindakan kognitif subyek penahu,
sedangkan kesalahan adalah hasil dari tindakan tersebut.
•
Kekeliruan
muncul akibat kegagalan dalam mengidentifikasi bukti yang tepat, menganggap
bukti sudah mencukupi padahal belum atau sebaliknya menganggap bukti belum
cukup padahal sudah.
•
Kekeliruan
dapat dikarenakan gegabah dalam menegaskan putusan tentang suatu perkara.
•
Kerancuan
atau kebingungan akibat emosi, frustasi, perasaan yang entah mengganggu
konsentrasi atau membuat kurang terbuka
terhadap bukti-bukti yang tersedia.
•
Prasangka
dan bias-bias, baik individu maupun sosial.
•
Keliru
dalam penalaran atau tidak mematuhi aturan-aturan logika.
5 komentar:
suhu penjelasannya lengkap dan jelas banget. aku jadi ngerti materinya. aku ksh 90 untuk halaman yang ini
isi postingannya lengkap bgt biksuni. 90 yaa
woww lengkap sekali biksuni hahaha 90 deh :)
wahh lengkap banget nih hahahahah 88 yaa biksuni
wahhh isinya lengkap sekali biksuniiii 88 ya nilainyaaa
Posting Komentar